Di tengah hiruk-pikuk perubahan zaman yang terus bergerak cepat, ada sebuah sudut di bumi Donggala yang tetap berdiri tenang. Di sanalah Kalonggo berada — dusun tertua yang menyimpan kisah paling tua, tempat di mana jejak langkah peradaban masyarakat Kaili pertama kali tertanam. Bukan sekadar nama di peta, Kalonggo adalah saksi hidup bagaimana nenek moyang kita membangun kehidupan, menjaga alam, dan mewariskan nilai-nilai luhur yang hingga kini masih terasa berdenyut di hati setiap anak cucunya.
Ketika kita menyebut nama Ompa Lauro, ada rasa hormat yang tumbuh secara naluriah. Bagi masyarakat Kalonggo dan sekitarnya, Ompa Lauro bukan sekadar nama leluhur yang sudah tiada. Ia adalah cikal bakal, pelopor, dan pelindung yang kehadirannya selalu melingkupi dusun ini. Ungkapan sederhana namun penuh makna yang dipegang teguh warga: "Kalonggo dusun tertua itu, Ompa Lauro mengelilingi dusun ini." Kalimat ini bukan sekadar pepatah — ia adalah pengakuan iman warga bahwa leluhur tidak pernah benar-benar pergi, ia hadir di setiap jengkal tanah, setiap hembusan angin, dan setiap doa yang terpanjat dari hati yang tulus.
II. MAKNA DAN ARTI NAMA OMPA LAURO DALAM BAHASA KAILI RAI
Sebelum kita melangkah lebih jauh, marilah kita menyelami makna mendalam di balik nama yang begitu sakral ini dalam bahasa Kaili Rai, bahasa ibu yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat di tanah ini:
OMPA — dalam bahasa Kaili Rai berarti Bapak, Orang Tua, atau Leluhur yang dihormati. Lebih dari sekadar ayah secara biologis, Ompa adalah sosok yang menjadi teladan hidup, pelindung komunitas, penunjuk jalan kebenaran, dan tempat warga memohon petunjuk. Ia adalah figur yang memikul kesejahteraan seluruh dusun di pundaknya, dengan hati yang lapang dan kebijaksanaan yang tak diragukan.
LAURO — dalam bahasa Kaili Rai dimaknai sebagai Cahaya yang Memancar, Terang yang Membawa Pencerahan. Lauro bukan sekadar cahaya yang bisa dilihat mata, melainkan cahaya kebijaksanaan, kedamaian, dan kebenaran. Ia adalah terang yang mengusir kegelapan ketidaktahuan, yang menuntun langkah manusia menuju kehidupan yang lebih baik dan bermartabat.
Jadi, secara utuh dalam bahasa Kaili Rai, Ompa Lauro berarti: Bapak Pembawa Cahaya — Leluhur yang datang membawa pencerahan, kedamaian, dan kebijaksanaan bagi seluruh anak cucunya.
Sangatlah tepat jika masyarakat Kalonggo berkata bahwa Ompa Lauro mengelilingi dusun ini. Sebagaimana cahaya yang tidak terlihat namun kehadirannya dirasakan di mana pun, begitu pula Ompa Lauro — ia tidak dibatasi oleh dinding atau batas fisik. Cintanya mengelilingi Kalonggo dari segala arah, melindungi warga dari hal-hal yang tidak terlihat mata, dan menjaga agar nilai-nilai kebenaran tetap hidup di tengah masyarakat.
III. KALONGGO: DUSUN TERTUA YANG MENYIMPAN SEJARAH PERADABAN
Kalonggo bukan sekadar permukiman tua yang berdiri sejak lama. Ia adalah pintu gerbang sejarah — di sinilah cikal bakal perkampungan masyarakat di kawasan ini mulai terbentuk. Sebelum desa-desa lain tumbuh dan berkembang, Kalonggo sudah berdiri tegak, menjadi tempat pertama di mana leluhur kita menetap, membangun rumah, membajak tanah, dan hidup berdampingan dengan alam dalam harmoni yang penuh rasa syukur.
Mengapa Kalonggo menjadi dusun tertua? Jawabannya ada pada kebijaksanaan Ompa Lauro. Beliau tidak memilih tempat ini secara kebetulan. Kalonggo berdiri di lokasi yang strategis namun terlindung — dekat dengan sumber air yang jernih, dikelilingi tanah yang subur, berada di ketinggian yang aman dari luapan air sungai, namun tetap terhubung dengan jalur perhubungan alam. Inilah bukti kebijaksanaan Ompa Lauro: beliau mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan alam, bukan menaklukkannya. Memilih tempat tinggal bukan berdasarkan keinginan sesaat, tetapi berdasarkan kebijaksanaan untuk menjamin kelangsungan hidup generasi mendatang.
Selama berabad-abad, Kalonggo menjadi pusat kehidupan — tempat berkumpulnya para tetua untuk bermusyawarah, tempat diumumkannya keputusan adat, tempat diselenggarakannya upacara syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan leluhur. Dari sinilah nilai-nilai adat tersebar ke dusun-dusun lain di sekitarnya. Kalonggo adalah ibu yang melahirkan perkampungan-perkampungan di sekitarnya — setiap kali ada kelompok yang ingin membuka permukiman baru, mereka memohon restu dari Kalonggo, membawa serta doa dan berkah Ompa Lauro ke tempat yang baru.
IV. OMPA LAURO MENGELILINGI DUSUN INI — FILOSOFI YANG TAK PERNAH PUDAR
Ketika para tetua berkata bahwa Ompa Lauro mengelilingi dusun ini, ada makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar perlindungan fisik. Ini adalah filosofi tentang kehadiran leluhur dalam setiap aspek kehidupan kita:
- Saat kita saling bekerja sama dan bergotong royong — itulah semangat Ompa Lauro yang hadir di tengah kita. Beliau mengajarkan bahwa tidak ada beban yang terlalu berat jika dipikul bersama.
- Saat kita menjaga hutan tetap hijau dan sungai tetap bersih — itulah pesan Ompa Lauro yang terjaga. Beliau mengingatkan bahwa alam bukan warisan nenek moyang semata, melainkan titipan Tuhan yang juga dipinjamkan oleh anak cucu kita yang belum lahir.
- Saat kita berbicara dengan sopan, menghormati yang lebih tua, dan menyayangi yang muda — itulah ajaran Ompa Lauro yang terus hidup dalam tutur kata kita.
- Saat ada yang berselisih dan kita duduk bersama untuk mencari jalan damai — di sanalah Ompa Lauro hadir sebagai penengah, sebagaimana beliau selalu mendamaikan perselisihan di masa hidupnya.
Oleh karena itu, Ompa Lauro tidak dikubur di satu titik saja. Beliau hidup di setiap sudut Kalonggo. Pohon tua yang berdiri di pinggir sungai adalah saksi beliau pernah duduk di sana beristirahat. Bukit yang memandang ke lembah adalah tempat beliau pernah berdiri memandang masa depan anak cucunya. Setiap nama tempat di Kalonggo memiliki cerita tentang jejak langkah beliau. Inilah sebabnya mengapa setiap jengkal tanah di Kalonggo terasa sakral — karena di sanalah jejak Ompa Lauro tercetak abadi.
V. KEMBALINYA KEJAYAAN: MENGAPA KITA TIDAK BOLEH MELUPAKAN AKAR
Kini, upaya sedang dilakukan untuk mengembalikan tata letak sejarah perkampungan Kalonggo seperti pada masa kejayaannya. Banyak yang mungkin bertanya: di zaman yang serba modern ini, apa gunanya kita sibuk dengan masa lalu? Mengapa tidak saja melupakan dan berjalan maju?
Pertanyaan ini wajar, namun jawabannya sangat penting: Kita tidak bisa membangun masa depan yang kokoh jika kita tidak tahu dari mana kita berasal. Sebuah pohon akan tumbuh tegak dan berbuah lebat hanya jika akarnya kuat tertanam di dalam tanah. Demikian pula sebuah komunitas — ia akan mampu menghadapi tantangan zaman dengan kepala tegak hanya jika ia mengenal siapa dirinya dan apa warisan luhur yang diembannya.
Mengembalikan tata letak sejarah Kalonggo bukan berarti kita ingin hidup di masa lalu. Kita tidak ingin kembali ke masa di mana belum ada listrik, belum ada jalan yang baik, belum ada fasilitas kesehatan yang memadai. Yang ingin kita pulihkan adalah jiwa Kalonggo — semangat kebersamaan, rasa hormat terhadap leluhur, kesederhanaan yang bermartabat, dan kedekatan dengan alam yang dijunjung tinggi pada masa Ompa Lauro.
Dengan memulihkan kembali tata letak sejarah Kalonggo, kita sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar membangun bangunan. Kita sedang:
✅ Memulihkan ingatan — agar generasi muda tahu siapa leluhur mereka dan apa yang diperjuangkan
✅ Menanamkan kebanggaan — bahwa kita berasal dari tempat yang tua dan bijaksana, bukan dari ketidaktahuan
✅ Menghubungkan masa lalu dengan masa depan — agar kemajuan yang kita capai tidak mengorbankan jati diri kita sendiri
✅ Menjaga identitas — di tengah arus globalisasi yang sering kali membuat kita merasa malu pada budaya sendiri
Ketika anak cucu kita kelak berdiri di Kalonggo, mereka tidak hanya akan mendengar cerita tentang Ompa Lauro. Mereka akan berdiri di tanah yang sama tempat beliau pernah berdiri. Mereka akan melihat pemandangan yang sama yang pernah beliau pandang. Dan di saat itulah mereka akan memahami: "Aku adalah bagian dari sejarah yang panjang, dan tanggung jawab besar ada di tanganku untuk meneruskan kebaikan ini."
VI. OMPA LAURO TETAP MENGELILINGI KITA
Kalonggo akan terus berdiri. Wajahnya mungkin berubah seiring waktu — rumah-rumah baru akan berdiri, jalan akan semakin baik, anak-anak akan tumbuh dan pergi merantau, lalu pulang kembali. Namun satu hal yang tidak boleh berubah: rasa hormat kita terhadap akar dan leluhur kita.
Ompa Lauro tidak pernah benar-benar pergi. Selama kita masih menyebut namanya dengan rasa hormat, selama kita masih mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari, selama kita masih menjaga Kalonggo dengan kasih sayang — maka Ompa Lauro akan selalu ada, mengelilingi dusun ini dengan kasih dan berkah, seperti cahaya yang tak pernah padam.
Kalonggo tetaplah Kalonggo — dusun tertua yang tak pernah menua, karena di dalamnya tersimpan jiwa Ompa Lauro yang abadi. Biarkan ini menjadi warisan terindah yang kita titipkan kepada generasi mendatang: bahwa mereka boleh pergi sejauh mana pun kaki membawa mereka, hati mereka harus selalu pulang ke sini — ke Kalonggo, tempat Ompa Lauro selalu menanti dengan cahaya yang tak pernah redup.
Selesai ditulis di Palu, 11 Oktober 2026
Oleh: Abdul Majid Adjie